galishia.putry10's blog

mencari dan memberi yang terbaik

Kisah Seorang Teman

September16

Nama  : Galishia Putry

NIM    : H54100001

Laskar : 17

Cerita ini mungkin agak berbeda dengan cerita inspirasi yang Saya alami sendiri. Cerita ini mengenai seorang teman yang dihadapkan pada suatu masalah—mungkin lebih mirip seperti cerpen daripada cerita inspirasi. Namun menurut Saya banyak hikmah yang dapat diambil dari cerita ini. Karena cerita ini bersumber dari curhatan seorang teman, Saya hanya dapat menceritakannya berdasarkan sudut pandang Saya.

Saya mempunyai seorang teman, sebut saja namanya Vika. Pagi itu, Vika datang dengan tergesa-gesa ke kelas. Saya baru saja meletakkan tas di kursi kelas. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Saat itu hanya beberapa anak yang sudah ada di kelas. “Tumben Vika udah dateng, biasanya dia selalu dateng pas jam tujuh,” itulah yang ada di benak Saya. Tiba-tiba dia menarik tangan Saya. “Ikut aku bentar ya, Gal.” Ucapnya dengan suara tersendat. Saya mengamati Vika, memastikan bahwa ia baik-baik saja. Saya langsung tahu dari suara dan matanya yang merah dan bengkak, bahwa ia habis menangis. Sebelum ia menggandeng tangan Saya, Saya mengabil tisu dari dalam tas saya.

Ia menggandeng Saya menuju sekretariat ekskul. Saya mengerti bahwa ia ingin mencari tempat yang sepi dan terhindar dari tatapan orang dan saat itu masih cukup pagi bagi murid-murid untuk berkumpul di sekretariat ekskulnya. Kami berdua duduk di depan pintu salah satu sekretariat ekskul yang Saya ikuti. Kata yang pertama kali muncul dari mulut Saya untuk Vika adalah: “Kenapa?”

“Aku belum pernah cerita soal HP aku yang dijual ya, Gal?” ucap Vika balik bertanya kepada Saya. “Belum.” Vika menghela napas dan berkata, “Gini, kamu tahu kan kalau aku ikut fitnes? Nah, ibuku ga mau ngebiayain fitnes itu karena kemahalan. Tapi aku udah terlanjur ikut, jadi aku terpaksa ngejual HP aku buat bayar fitnes itu.” Aku mengangguk tanda mengerti. Fitnes yang diikuti Vika bukan fitnes biasa, harganya juga bukan harga biasa. Sepertinya aku tahu jalan cerita ini akan mengarah kemana, “Terus?” Vika kembali menghela napas, kali ini lebih berat. Air matanya mulai berlinang. “Aku ga bilang soal HP itu ke ortu, aku takut dimarahin. Ta..tadi pagi, ibu nanya HP-ku kemana. Ibu bilang dari kemaren-kemaren dia ga liat HP-ku. Aku udah bilang kalau HP-ku rusak dan lagi dibetulin. Tapi dia ga percaya, dia minta struk servisnya. Setelah itu aku langsung ke kamar dan buat struk palsunya. Terus aku langsung kasih ke Ibu dan katanya aku disuruh ngambil HP itu hari ini. Kalau aku ga mau ngambil, Ibu bilang dia yang bakal ngambil ke tempat servisnya. Ayah juga saat itu ngedenger percakapan aku sama Ibu.”

Saya memegang tangan Vika. Saya tahu Ayah Vika sangat keras wataknya. Belum lagi Ibunya yang entah mengapa selalu mencari-cari kesalahan Vika. Sebelum Saya mengucap sepatah kata pun, ia sudah melanjutkan ceritanya. “Tapi aku udah nabung, Gal. Aku nabung buat beli HP itu lagi. Tante aku juga bantuin aku nyari orang yang ngejual HP dengan tipe yang sama dengan HP-ku. Dia juga katanya mau bantuin aku buat ngebayarnya. Aku sama si penjualnya bahkan udah janjian buat beli HP itu akhir minggu ini. Tapi ibuku bilang….” Suara Vika makin tersendat-sendat. Ia sudah benar-benar menangis sekarang. Saya mengambil selembar tisu dan menyerahkan ke tangannya. Ia mengelap matanya sambil mengatakan, “Dia juga bilang kalo sampai HP itu ga ada, aku ga boleh pulang dan Ibu bakalan ngadu ke Ayah.”

Saya mengusap-usap lengannya, berusaha menenangkannya. Jujur, Saya bukan orang yang pandai menghibur atau menenangkan orang. Jadi yang bisa Saya lakukan hanyalah berpikir keras bagaimana menyelesaikan masalah ini. Tapi ada satu pertanyaan yang sedari tadi mengganggu Saya. “Kok, ibumu kayak ngusir kamu gitu sih?” Vika berucap, “Aku juga ga tau, Gal. Dari dulu tuh dia kayaknya selalu ga suka sama aku. Aku tuh di rumah berasa ga punya Ibu.” Vika terus bercerita mengenai dirinya yang seperti tidak dianggap oleh ibunya, yang rasanya seperti anak tiri, dan lain sebagainya. Padahal menurut pengakuan Vika, dia sudah selalu berusaha untuk memenuhi keinginan ibunya. Rasanya memang seperti mendengarkan sinopsis sinetron, tapi Saya tidak menyangka bahwa itu benar-benar terjadi di kehidupan nyata—bahkan dialami oleh orang yang cukup dekat dengan Saya.

Saya tahu hal tersebut adalah masalah intern keluarga, jadi Saya tidak berusaha untuk mengorek lebih lanjut. “Aku mungkin udah biasa bermalah sama Ibu, Gal. Tapi Aku takut kalau sampai Ayahku marah besar. Selama ini hanya Ayah yang berasa seperti Orangtuaku.” Ucap Vika sambil terisak. Saya mengusap lengannya lagi, pikiran Saya terus berusaha mencari jawaban. Setelah beberapa menit kami berdiam, salah seorang adik kelas berjalan melewati kami. Dia memperhatikan Vika yang terus terisak. Saya balas menatapnya sambil tersenyum. Kelihatannya dia mengerti maksud senyum ‘mengusir’ Saya, karena dia berhenti menatap Vika dan berjalan cepat menuju mushola.

Saya mencoba mengucapkan apa yang ada di benak Saya. “Kalau ibumu memang mengharuskan kamu bawa HP-mu saat pulang nanti, kenapa kamu ga pinjem HP-nya Tio aja dulu. HP dia sama HP-mu yang dijual sama kan tipenya?” Vika mendongak ke arah Saya, “Iya, ya Gal? Apa aku pinjem HP Tio dulu. Atau tukeran dulu deh HP dia sama HP aku yang satu lagi. Kalau dia ga mau apa nanti kubayar aja ya? Cuma sampai akhir pekan ini kok.” Wajahnya mulai sedikit tenang. “Tio baik kok, dia pasti ngerti dan mau minjemin.” Saya berusaha untuk menenangkannya. Namun faktanya, Saya sama sekali tidak tenang. Apakah yang usulkan ini solusi yang benar? Menutupi kebohongan dengan kebohongan? Sampai kapan Vika mau berbohong terus?

A lie may take care of the present, but it has no future.

Saya kembali mengutarakan pikiran Saya, kali ini dengan lebih tegas. “Tapi Vik, menurutku sebaiknya kamu jujur aja deh tentang HP-mu yang kamu jual. Kalau bohong lagi, nanti ada masalah lagi.” Vika merespon usul Saya dengan sedikit sedih. “Kamu ga ngerti ibuku sih, Gal. Dia tuh suka banget nyari-nyari kesalahanku. Dia pasti bakalan ngadu ke Ayah dan ngejelek-jelekin aku di depan Ayah.” Saya kembali menyiapkan argumen lain. “Kalau gitu, Vika langsung aja ngomong ke Ayah soal HP itu. Kalau Vika langsung ngomong, mungkin Ayah Vika bakalan lebih paham masalahnya.” “Tapi, Gal, Ayah pasti bakalan marah.” Ucap Vika. “Marah sudah pasti. Tapi aku rasa, kalau Vika nyeritain soal Vika udah nabung susah payah buat ngebeli HP yang sama lagi, Ayah Vika pasti bangga.”

Vika mengerutkan dahinya tanda tak mengerti. “Iya, coba pikir deh, kalau kamu jadi Ayahmu. ‘Wah, anak Saya betul-betul berusaha untuk tidak membuat Saya kecewa dan marah sama dia. Dia betul-betul berusaha untuk menjaga perasaan Saya.’ Ya, kan? Daripada berbohong terus, lebih baik jujur, ya kan?” ucap Saya dengan penuh keyakinan. Vika menundukkan kepala. Saya tahu dia benar-benar memikirkan apa yang baru saja Saya katakan. “Gitu ya, Gal?” tanyanya ragu. “Iya, lebih baik jujur sekarang daripada berbohong dan membuat kesalahan lagi. Aku yakin kok, sekeras apapun Ayah Vika, dia pasti ngerti perjuangan anaknya untuk menjaga perasaannya.” Saya mengangguk—berusaha untuk meyakinkan Vika.

“Kalau gitu, nanti istirahat sekolah, aku ke kantor Ayah aja buat ngejelasin semuanya, sebelum Ayah pulang dan ketemu sama Ibu, ya?” tanyanya. Saya kembali mengangguk menyetujui usulnya. Bunyi bel tanda masuk membuat kami bangkit dari ambang pintu dan berjalan menuju kelas. Sambil berusaha untuk menyeka air matanya, saya mengusap-usap bahunya.

Saat bel tanda istirahat selesai berbunyi, Vika datang ke kelas dan kembali menarik Saya keluar kelas—kali ini bukan ke sekretariat ekskul, tapi ke kantin. Tanpa basa-basi, Saya langsung tanya, “Gimana, Vik?” Vika menceritakan semuanya. Ia melakukan persis seperti apa yang usulkan dan respon ayahnya juga persis seperti apa yang Saya perkirakan. “Kamu bener, Gal. Ayah memang marah sih pada awalnya, tapi Ayahku juga sama sekali ga nyangka kalau aku bisa berusaha nabung untuk beli HP yang sama. Pada akhirnya Ayah ngerti deh.” Ucap Vika dengan wajah berseri-seri. “Ah, Ayah juga bilang sih kalau aku sebaiknya tetap meminjam HP-nya Tio untuk kutunjukkan pada Ibu, paling tidak sampai HP yang baru kubeli.” lanjutnya sambil tersenyum. Aku lega mendengarnya. “Bener kan kataku? Jujur itu memang jalan yang terbaik.” Ia memegang tangan Saya sambil mengucapkan, “Makasih ya, Gal.”

Truth and honesty will make you miserable, but then, it’ll set you free.

posted under Academic | No Comments »

Cerita Inspirasi Diri

September16

Nama  : Galishia Putry

NIM    : H54100001

Laskar : 17

Banyak orang mengatakan bahwa SMA adalah masa peralihan dalam hidup seseorang. Masa dimana manusia mulai mencari jati diri. Ada lagi yang menyatakan bahwa masa-masa SMA adalah masa paling bahagia. Mendengar pernyataan-pernyataan seperti itu Saya berjanji pada diri saya bahwa saya tidak akan melewatkan masa SMA ini seperti saya melalui masa-masa SMP yang sepi dan membosankan. Kalau di kuliah sering disebut kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang) mungkin saat SMP saya disebut sebagai sapu-sapu (sekolah-pulang-sekolah-pulang). Hal tersebut membuat saya tidak mempunyai banyak teman dan butuh waktu yang lama bagi teman seangkatan saya untuk mengingat Saya—sebut saja Saya anak cupu.

Saya bukan ingin mengubah titel cupu tersebut, saya hanya ingin melakukan sesuatu di SMA ini. Sesuatu yang suatu hari nanti bisa Saya kenang. Untunglah SMA Saya menyediakan berbagai macam organisasi dan ekstrakurikuler, mulai dari olahraga, seni, pramuka, bela diri dll. Di antara dua puluh ekstrakurikuler, hanya satu yang menyangkut di benak Saya: KIR (Kelompok Ilmiah Remaja)—salah satu ekskul semi-organisasi. Saya dan beberapa teman di kelas Saya pun mendaftar untuk menjadi anggota KIR. Karena banyak teman Saya yang memilih lebih dari satu ekskul, maka saya juga memilih ekskul lain, namun Saya tidak aktif dalam ekskul ini dan setelah satu tahun menjadi anggota gabut (gaji buta) ekskul tersebut, Saya memutuskan untuk keluar.

Setelah mendaftar dan mengikuti pertemuan perdana KIR, saya agak terkejut dengan banyaknya tugas yang harus dikerjakan—rasanya seperti di MOS ulang. Saya berpikir, “Apa hubungannya keilmiahan dengan buku tugas berisi jadwal kegiatan, autobiografi, berita, ceramah ataupun tanda tangan semua anggota KIR? Atau nametag ekskul yang harus selalu dipakai selama berada di lingkungan sekolah?”. Ternyata tidak hanya KIR yang memberikan tugas-tugas seperti itu, beberapa ekskul semi-organisasi lain di sekolah Saya juga seperti ini.

Oh, ada satu hal yang lupa saya ceritakan yaitu alasan Saya bergabung di ekskul KIR ini. Di buku tugas saya tertulis: “Alasan masuk KIR: untuk mendapatkan pengalaman berorganisasi.” Namun yang paling saya inginkan dari KIR adalah divisi astronominya. Dari dulu Saya sangat menyukai bintang-bintang. Setiap malam yang cerah, Saya akan berdiri di dekat pagar rumah dan memandang bintang-bintang sampai puas. Saya juga suka mencari info mengenai perbintangan dan planet-planet. Saya berharap dengan masuk KIR khususnya divisi astronomi, Saya akan mendapatkan banyak info mengenai perbintangan.

Setelah pemilihan Dewan Harian selesai, pembagian anggota perdivisi pun diumumkan. Dan saat saya diumumkan masuk ke divisi wirausaha, mulut saya dengan refleks mengucapkan: “Yah”. Cukup keras untuk didengar oleh kakak kelas yang mengumumkannya—agak malu sebenarnya, tapi kekecewaan Saya lebih besar daripada rasa malu tersebut. Saya betul-betul tidak mengerti kenapa saya tidak masuk divisi astronomi. Rasanya saya sudah mengerjakan tugas-tugas dengan baik dan mengikuti pertemuan-pertemuan. Teman-teman Saya yang lain bisa masuk ke divisi yang mereka inginkan, tapi kenapa Saya tidak? Saya betul-betul kecewa.

Pertemuan berikutnya—yakni pertemuan perdivisi—Saya ikuti dengan setengah hati. Satu divisi di KIR mempunyai beberapa anggota, dua koordinator, dan satu ketua koordinator. Mulut saya mungkin tersenyum, tapi hati Saya menyuarakan kekecewaan. Namun setelah mendapat penjelasan dari Ketua Koordinator Divisi Wirausaha yang mengatakan bahwa divisi organisasi (termasuk salah satunya divisi wirausaha) bisa nemplok kemana saja. Maksudnya adalah jika seandainya ada divisi kegiatan (MIPA, astronomi, komputer, sosial-bahasa) sedang mengadakan suatu acara, Saya bisa mengikuti yang mana saja. Paling tidak, saya masih bisa mengikuti kegiatan divisi astronomi, walaupun tidak bisa mengikuti kegiatan intern divisinya.

Boleh dikata bahwa Saya memang kecewa dengan keputusan kakak-kakak kelas Saya, tapi Saya bukan orang yang dapat melepas amanah begitu saja. Meski hanya sebagai anggota, Saya tetap berusaha hadir dalam setiap pertemuan baik pertemuan divisi ataupun pertemuan KIR. Belum lagi tugas Saya sebagai anggota Divisi Wirus (wirausaha) yang harus menjual kue-kue ke kelas yang nanti keuntungannya akan diberikan kepada KIR dan Divisi Wirausaha itu sendiri. Jadi, hampir setiap hari Saya menerima kue dan menjualnya di kelas. Yang paling sulit adalah ketika banyak yang berhutang atau jualannya tidak habis—terpaksa Saya beli sendiri. Selain berjualan di kelas, anggota Divisi Wirus juga berjualan pernak-pernik di acara-acara besar sekolah, seperti bazaar Ramadhan atau pentas seni.

Ada tiga kemungkinan kondisi yang saya dapati ketika selesai berjualan: lelah, uang saku berkurang, atau lelah dan uang saku berkurang. Saya baru menyadari bahwa Divisi Wirausaha adalah divisi tersibuk di KIR. Namun, dengan sibuknya Saya di KIR, Saya jadi mempunyai banyak teman, mengenal berbagai karakter, juga menyelami dunia usaha. Memang hanya wirausaha tingkat sekolah, tapi paling tidak Saya melakukan sesuatu di masa-masa SMA ini. Yang sebelumnya Saya adalah ’sapu-sapu’ sekarang saya berubah menjadi ‘salju-salju’ (sekolah-jualan-sekolah-jualan).

Tanpa saya sadari saya cukup enjoy berada di KIR, khususnya di Divisi Wirausaha. Dan tanpa Saya sadari juga, ternyata Saya cukup enjoy dalam berjualan. Saya tak dapat memungkiri kalau Saya kadang mengeluh mengenai sibuknya berjualan. Walaupun orang tua Saya sudah memberi kebebasan kepada Saya untuk berorganisasi, mereka sering menanyakan kenapa hari minggu Saya kadang datang ke sekolah. Saya hanya dapat menjawa bahwa anggota Divisi Wirus harus mempersiapkan dagangan untuk keesokan harinya. Belum lagi jika ada acara-acara besar dimana anggota Divisi Wirausaha harus mengisi stand KIR. Saya pasti akan menjadi sangat sibuk.

Organisasi memang penting, tapi sekolah tetap prioritas utama Saya—Saya tidak akan lupa hal itu. Harus diakui bahwa Saya cukup kaget dengan pelajaran di kelas yang agak sulit untuk diikuti dan sering kecewa karena nilai-nilai saya yang kurang memuaskan. Kesibukan-kesibukan tersebut menuntut Saya untuk belajar bagaimana me-manage waktu dengan baik antara pelajaran dan organisasi.

Tahun pertama Saya di SMA terlewati sudah dengan jabatan Saya sebagai anggota Divisi Wirausaha dan anak jualan di kelas. Jujur, Saya cukup nyaman menjadi anggota Divisi Wirus. Tidak, Saya senang menjadi anggota Divisi Wirausaha. Saya kadang tersenyum mengingat bagaimana dulu Saya sangat kecewa saat masuk Divisi Wirausaha atau bagaimana reaksi kakak-kakak kelas saat mendengar Saya mengatakan “Yah” saat pengumuman anggota divisi. Ketika regenerasi keanggotaan KIR, dengan hati lapang Saya mengisi Surat Rekomendasi Diri yang bertuliskan:

Nama                               : Galishia Putry.

Jabatan yang diinginkan  : Koordinator Divisi Wirausaha.

~You can’t always get what you want…~

Saat pengumuman pengurus KIR tahun berikutnya, diberitahukan bahwa…

~but if you try sometimes, you’ll find…~

“Divisi Wirausaha. Ketua Koordinator: Galishia Putry.”

~you get what you need~

(credit to The Rolling Stones: You can’t always get what you want)

posted under Academic | No Comments »